sedarah

Probably you will read the same story or watch the same movie in another website. Hopefully everyone will enjoy this share….

Archive for July, 2008

Mirna, Menantu Seksi

Posted by premium on July 21, 2008

Berdiri di depan pintu rumahku, menantu permpuanku, Mirna, mendekatkan kepalanya ke arahku dan berbisik, “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.” Dia memberiku sebuah kecupan ringan di pipi, dan berbalik lalu berjalan menyusul suami dan anaknya yang sudah lebih dulu menuju ke mobil. Yoyok menempatkan bayinya pada dudukan bayi itu, dan seperti biasanya, dia terlalu jauh untuk mendengar apa yang dibisikkan istrinya tercintanya terhadap Ayah kandungnya.

Mirna melenggang di jalan kecil depan rumah dengan riangnya bagai seorang gadis remaja yang menggoda. Yoyok tak mengetahui ini juga, ini semua dilakukan istrinya hanya untukku…

Mungkin kalian mengira aku terlalu mengada-ada soal ini, tapi kenyataannya apa yang Mirna lakukan ini tidak hanya sekali ini saja. Dan sejak aku tak terlalu terkejut lagi, aku merasa ada sesuatu yang hilang jika dia tidak melakukannya saat berkunjung ke rumahku. Aku merasa ada getaran pada penisku, dan sebagai seorang lalaki biasa yang masih normal, pikiran ‘andaikan…’ yang wajar menurutku selalu hadir di benakku.

Mirna adalah seorang wanita yang bertubuh mungil, tapi meskipun begitu ukuran tubuhnya tersebut tak mampu menutupi daya tarik seksualnya. Sosoknya terlihat tepat dalam ukurannya sendiri. Dia mempunyai rambut hitam pekat yang dipotong sebahu, dia sering mengikatnya dengan bandana. Dia memiliki energi dan keuletan yang sepengetahuanku tak dimiliki orang lain. Sebuah keindahan nan elok kalau ingin mendiskripsikannya. Dia selalu sibuk, selalu terlihat seakan dikejar waktu tapi tetap selalu terlihat manis. Dia masuk dalam kehidupan keluarga kami sejak dua tahun lalu, tapi dengan cepat sudah terlihat sebagai anggota keluarga kami sekian lamanya.

Yoyok bertemu dengannya saat masih kuliah di tahun pertama. Mirna baru saja lulus SMU, mendaftar di kampus yang sama dan ikut kegiatan orientasi mahasiswa baru. Kebetulan Yoyok yang bertugas sebagai pengawas dalam kelompoknya Mirna. Seperti yang sering mereka bilang, cinta pada pandangan pertama.

Mereka menikah di usia yang terbilang muda, Yoyok 23 tahun dan Mirna 19 tahun. Setahun kemudian bayi pertama mereka lahir. Aku ingat waktu itu kebahagian terasa sangat menyelimuti keluarga kami. Suasana saat itu semakin membuat kami dekat. Mirna mempunyai selera humor yang sangat bagus, selalu tersenyum riang, dan juga menyukai bola. Dia sering terlihat bercanda dengan Yoyok, mereka benar-benar pasangan serasi. Dia selalu memberi semangat pada Yoyok yang memang memerlukan hal itu.

Yoyok dan Mirna sering berkunjung kemari, membawa serta bayi meraka. Mereka telah mengontrak rumah sendiri, meskipun tak terlalu besar. Aku pikir mereka merasa kalau aku membutuhkan seorang teman, karena aku seorang lelaki tua yang akan merasa kesepian jika mereka tak sering berkunjung. Disamping itu, aku memang sendirian di rumah tuaku yang besar, dan aku yakin mereka suka bila berada disini, dibandingkan rumah kontrakannya yang sempit.

Ibunya Yoyok telah meninggal karena kanker sebelum Mirna masuk dalam kehidupan kami. Sebenarnya, tanpa mereka, aku benar-benar akan jadi orang tua yang kesepian. Aku masih sangat merindukan isteriku, dan bila aku terlalu meratapi itu, aku pikir, kesepian itu akan memakanku. Tapi pekerjaanku di perkebunan serta kunjungan mereka, telah menyibukkanku. Terlalu sibuk untuk sekedar patah hati, dan terlalu sibuk untuk mencari wanita untuk mengisi sisa hidupku lagi. Aku tak terlalu memusingkan kerinduanku pada sosok wanita. Tak terlalu.

Bayi mereka lahir, dan menjadi penerus keturunan keluarga kami. Kami sangat menyayanginya. Dan kehidupan terus berjalan, Yoyok melanjutkan pendidikannya untuk gelar MBA, dan Mirna bekerja sebagai Teller di sebuah Bank swasta.

Kunjungan mereka padaku tak berubah sedikitpun, cuma bedanya sekarang mereka sering membawa beberapa bingkisan juga. Tentu saja, diasamping itu juga perlengkapan bayi, beberapa popok, mainan dan makanan bayi.

Beberapa bulan lalu Mirna dan bayi mereka datang saat Yoyok masih di kelasnya. Dia duduk disana menggendong bayinya di lengannya. Dia sedang berusaha untuk menidurkan bayinya. Aku tak tahu caranya, tapi pemandangan itu entah bagaimana telah menggelitik kehidupan seksualku.

“Ngomong-omong… kapan Ayah akan segera menikah lagi?” dia bertanya dengan getaran pada suaranya.
“Aku tak tahu. Aku kelihatannya belum terlalu membutuhkan kehadiran seorang wanita dalam hidupku. Lagipula, aku telah memiliki kalian yang menemaniku.”
“Aku tidak bicara tentang teman. Aku sedang bicara soal seks.” matanya mengedip kearahku saat dia bicara.
“Apa?”
“Ayah tahu, seks.” dia hampir saja tertawa sekarang. “Ketika seorang lelaki dan wanita sudah telanjang dan memainkan bagiannya masin-masing?”
“Ya, aku tahu seks,” aku membela diri. “Lagipula kamu pikir darimana suamimu berasal?”
“Yah, aku hanya khawatir kalau Ayah sudah melupakannya. Maksudku, apa Ayah tak merindukan hal itu?”
“Terima kasih atas perhatianmu, tapi aku sudah terlalu tua untuk hal seperti itu.”
“Hei! Lelaki tak pernah bosan dengan hal itu. Setidaknya begitulah dengan putramu.”
“Anakku jauh lebih muda dariku, dan dia mempunyai seorang istri yang cantik.”
“Terima kasih, tapi aku masih tetap menganggap Ayah membutuhkannya,” dia menekankan suaranya pada kata ‘Ayah’.
“Terima kasih sudah ngobrol,” kataku, masih terdengar sengit. Ada sedikit jeda pada perbincangan itu, saat dia masih menekan kehidupan seksualku. Aku pikir bukanlah urusannya untuk mencampuri hal itu meskipun kadang aku membayangkannya juga.

Dia pandang bayinya, yang akhirnya tertidur, dan memberinya sebuah senyuman rahasia, sepertinya mereka berdua akan berbagi sebuah rahasia besar. Masih memandangnya, tapi dia berbicara padaku, “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”
“Apa!!!?”
“Aku serius.” Mirna menatapku. “Kalau Ayah menginginkan aku… Ayah adalah seorang lelaki yang tampan. Ayah membutuhkan seks. Disamping itu, aku bersedia, kan?”

Aku pikir dia sedang bercanda. Tapi wanita yang menggoda ini tidak sedang main-main. Tapi tetap saja tak mungkin aku melakukannya dengan istri dari anak kandungku sendiri. “Terima kasih atas tawarannya, tapi kupikir aku akan menolak tawaranmu.” suaraku terdengar penuh dengan keraguan saat mengucapkannya.
Mirna mencibirkan bibir bawahnya, aku tak bisa menduga apa yang sedang dirasakannya. Dia tetap terlihat menawan, dan aku merasa Yoyok sangat beruntung.
Dia bicara dengan pelan. “Dengar, Yoyok tak akan tahu. Maksudku, aku tak akan mengatakannya kalau Ayah juga menjaga rahasia. Dan bukan berarti aku menawarkan diriku pada setiap lelaki yang kutemui. Aku bukan wanita seperti itu dan aku bisa mengatur agar sering berkunjung kemari. Dan aku tahu Ayah menganggapku cukup menarik kan, sebab aku sering melihat Ayah memandangi pantatku.”

Aku tak mungkin menyangkalnya. Mirna mungkin tak terlalu tinggi, tapi dia memiliki bongkahan pantat yang indah diatas kedua kakinya. “Ya, kamu memang memiliki pantat yang indah. Tapi itu bukan berarti kalau aku ingin berselingkuh dengan menantuku sendiri.”

Dia berhenti sejenak, tapi Mirna kelihatannya tak akan menyerah begitu saja. “Yah, tapi jangan lupa. “Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”

Dan itulah awal dari semua ini.

Seiring minggu yang berlalu, entah di sengaja atau tidak, dia seakan selalu berusaha untuk menggodaku, membuat puting sususnya menyentuh dadaku saat dia menyerahkan bayinya padaku untuk ku gendong. Atau dia masukkan jarinya di mulutnya saat Yoyok tak melihat, dan menghisapnya dengan pandangan penuh kenikmatan ke arahku. Suatu waktu dia duduk di lantai dengan kaki menyilang dan sedang bermain dengan bayinya, dia memandangku tepat di mata, tersenyum, dan menyentuh pangkal paha di balik celana jeansnya. Aku tak akan melupakan hal itu. Dan dia entah bagaimana selalu menemukan cara untuk berduaan denganku walaupun sesaat, dan dia memberiku ciuman singkat yang penuh gairah, tepat di bibir. Itu semua dilakukannya berulang-ulang.

“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik di belakang Yoyok saat suaminya itu sedang memasukkan DVD pada player.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia berbisik saat mendekat untuk menyodorkan minuman padaku.
“Kalau Ayah mau… aku nggak menolak,” dia membisikkannya setiap kali dia berpamitan.

Dan sekarang, aku bukanlah terbuat dari batu, dan aku tak akan bilang tingkah lakunya itu tidak memberikan pengaruh terhadapku. Mirna sangat manis dan mungil, dan meskipun setelah melahirkan bayi pertamanya tak membuat tubuhnya berubah seperti kebanyakan wanita. Dia tetap langsing, dan manis, dan dia menawarkan dirinya untuk kumiliki. Tapi aku tak akan memulai langkah pertama untuk tidur dengan menantuku sendiri, tak perduli semudah apapun itu.

Setidaknya itulah yang tetap kukatakan pada diriku sendiri.

Beberapa minggu yang lalu kami semua berkumpul di rumahku untuk melihat pertandingan bola. Aku mengambil beberapa kaleng minuman dan sedang berada di dapur untuk menyiapkan beberapa makanan ringan saat Mirna muncul dari balik pintu itu.

“Hai!” sapanya, membuka pintu dan masuk ke dapur. “Ayah sudah siap untuk pertandingan nanti?”
“Hampir. Aku sedang membuat makanan untuk keluarga kecil kita, dan aku punya beberapa wortel untuk cucuku. Aku pikir dia akan suka dan warnanya sama dengan kesebelasan yang akan bertanding nanti, kan?
Mirna tertawa dan berkata. “Aku rasa dia tak akan perduli. Disamping itu bukankah ada hal lain yang lebih baik yang bisa Ayah kerjakan untukku?”
“Jangan menggodaku. Aku seorang kakek dan aku akan lakukan apa yang menurutku akan disukai oleh cucuku.” aku memandangnya. Mirna berdiri di sana memakai bandana merah kesukaannya diatas rambutnya yang sebahu. Dia memakai kaos yang sedikit ketat yang bahkan tak sampai ke pinggangnya, dan pusarnya mengedip padaku dibalik kaosnya. Kancing jeansnya membuatnya kelihatan seperti anak-anak diera bunga tahun 60an, dan dia memakai sandal dengan bagian bawah yang tebal yang menjadikannya lebih tinggi sepuluh centi. Kuku kakinya dicat merah senada dengan lipstiknya, dan itu menjadi terlihat dengan sangat menarik dibalik denimnya. Dia selalu suka mengenakan perhiasan, dan dia memakainya pada leher, telinga, pergelangan tangan dan bahkan di jari kakinya. Dia membuatku berandai-andai jika saja aku masih remaja, jadi aku dapat memacari gadis sepertinya. Mungkin suatu waktu nanti aku harus pergi ke kampus dan mencari gadis-gadis. Khayalanku terhenti saat menyadari kalau Yoyok dan bayinya tidak mengikutinya masuk. “Mana anggota keluargamu yang lainnya?” aku bertanya ingin tahu.

“Mereka akan segera datang. Yoyok pergi ke toko perkakas untuk membeli peralatan mesin cuci yang rusak. Dia ingin membawa serta anaknya. ‘Perjalanan ke toko perkakas yang pertama bersama Ayah’ kurasa yang dikatakannya padaku.” dia tersenyum. “Apa Ayah mempermasalahkan saat pertama kalinya mengajak Yoyok ke toko perkakas?”
“Aku tak ingat,” aku berkata dengan garing.

Mirna mendekat padaku, dan menaruh tangannya melingkari leherku. “Ini kesempatan Ayah. Kalau Ayah mau… aku nggak menolak.”

Mirna memandangku tepat di mata dan mengangkat tubuhnya dan menciumku lama dan liar. Aku ingin mendorongnya, tapi aku tak tahu dimana aku harus menaruh tanganku. Aku tak mau menyentuh pinggang telanjang itu, dan jika aku menaruh tanganku di dadanya aku pasti akan menyentuh puting susunya. Saat aku masih terkejut dan bingung, aku temukan diriku menikmati ciumannya. Ini sudah terlalu lama, dan aku merasa telah lupa akan rasa lapar yang mulai tumbuh dalam diriku.

Akhirnya aku menghentikan ciuman itu dan mundur dan melepaskan tangannya dari leherku. “Kita tak bisa melakukannya.” aku mencoba menyampaikannya dengan lembut, tapi aku takut itu kedengaran seperti rajukan.

“Ya kita bisa.” Mirna kembali menaruh lengannya di leherku dan mendorong bibirku ke arahnya. Ada gairah yang lebih lagi dalam ciuman kali ini, dan akhirnya penerimaanku. Kali ini saat kami berhenti, ada sedikit kekurangan udara diantara kami berdua, dan aku semakin merasa sedikit bimbang.

Mirna memandangku dengan binar di matanya dan sebuah senyuman di bibirnya. “Ayah menginginkanku. Aku bisa merasakannya. Ayah tak mendapatkan wanita setahun belakangan ini, dan Ayah tak mempunyai tempat untuk melampiaskannya. Dan aku menginginkan Ayah. Jadi tunggu apa lagi…”
Pada sisi ini aku tak mampu berkomentar. Aku menginginkannya. Tapi aku tak dapat meniduri menantuku, bisakah aku? Tapi aku menginginkan dia. Aku merasa pertahananku melemah, dan saat Mirna menciumku lagi, aku jadi sedikit terkejut saat menyadari diriku membalas ciumannya dengan rakus.

“Mmmmm. Itu lebih baik,” katanya saat kami berhenti untuk mengambil nafas. Mirna menarik tangannya dari leherku dan mulai melepaskan kancing celanaku saat menciumku kembali lalu dia mundur. Jadi dia bisa melihat saat dia melepaskan kancing jeansku, menurunkan resletingnya, dan merogoh ke dalam untuk mengeluarkan barangku. Aku terkejut saat terlihat jadi tampak lebih besar di genggaman tangannya yang kecil. Setahun sudah tak disentuh oleh wanita , dan bereaksi dengan cepat, menjadi keras dan cairan pre-cumnya keluar saat dia mengocoknya dengan lembut.

Mirna mundur dan duduk. Saat kepalanya turun, dia menempatkan bibirnya di pangkal penisku yang basah. “Aku rasa aku menyukai bentuknya,” bisiknya sambil menatap mataku. Lalu kemudian dia membuka mulutnya dan dengan perlahan memasukkan penisku ke dalam mulutnya. Ke dalam dan lebih dalam lagi penisku masuk dalam mulutnya yang lembut, hangat dan basah, dan aku merasa berada di dalam vagina yang basah dan kenyal saat lidahnya menari di penisku. Akhirnya aku merasa telah berada sedalam yang ku mampu, bibirnya menyentuh rambut kemaluanku dan kepala penisku berada entah di mana jauh di tenggorokannya. Penisku tanpa terasa mengejang, dan pinggangku bergerak berlawanan arah dengannya, dan bersiap untuk menyetubuhi wajahnya.

Tapi Mirna perlahan menjauhkan mulutnya dariku, menimbulkan suara seperti sedang mengemut permen. Saat dia bangkit untuk menciumku lagi, aku mengarahkan tanganku diantara pahanya. Aku gosok jeansnya dan dia menggeliat karenanya. “Mmmm, itu pasti nikmat,” katanya. “Tapi biar aku membuatnya jadi lebih mudah.”

Mirna melepaskan kancing celananya dan menurunkan resletingnya, memperlihatkan celana dalam katunnya yang bergambar beruang kecil. Diturunkannya celananya dan melepaskannya dari tubuhnya. Kami melihat ke bawah pada area gelap dibawah sana dimana kewanitaannya bersembunyi, dan kemudian aku sentuh perutnya yang kencang dan terus menurunkan celana dalamnya.

Mirna mengerang dalam kenikmatan saat tanganku mencapai sasarannya dibalik celana dalamnya. Vaginanya serasa selembut pantat bayi, dan aku sadar kalau dia pasti telah mencukurnya sebelum kemari. Terasa basah dan licin oleh cairan kewanitaannya dan membuatku kagum karena itu tak menimbulkan bekas basah di luar jeansnya. Saat tanganku menyelinap dibalik bibir vaginanya dan menyentuh klitorisnya yang mengeras, dia memejamkan matanya dan menekan berlawanan arah dengan jariku.

Mirna menaruh salah satu tangannya di leherku dan mendorong kami untuk sebuah ciuman intensif berikutnya sedangkan tangannya yang lain mengocok penisku dan tanganku terus bergerak dalam lubang basahnya. Saat kami berhenti untuk bernafas, Mirna mundur dan mengatakan sesuatu yang mengejutkan, “Yoyok datang.”

Aku segera melepasnya dan menuju jendela. Ya, mobil Yoyok terlihat di jalan sedang menuju kemari. Mirna pasti melihatnya dari balik bahuku saat kami saling mencumbui leher. Tiba-tiba perasaan bersalah datang menerkam karena hampir saja ketahuan. Aku tak percaya apa yang hampir saja kami lakukan. Dengan tergesa-gesa aku kenakan kemabali celanaku, tapi Mirna menghentikanku dan menangkap tanganku dan melanjutkan kocokannya.

“Hei, tidak boleh. Tak semudah itu Ayah boleh mengakhirinya. Aku telah menunggu terlalu lama untuk ini.”
“Tapi Yoyok hampir datang! Dia akan melihat kita!”

Mirna mengeluarkan penisku dan berjalan ke arah meja dapur. “Ini perjanjiannya,” katanya. “Aku tak akan mengadu pada Yoyok tentang apa yang baru saja kita lakukan kalau Ayah dapat dapat mengeluarkan seluruh sperma Ayah dalam vaginaku sebelum dia sampai kemari.” Sambil berkata begitu, dia menurunkan celananya hingga lutut dan membungkuk di meja itu.
“Dia segera datang!” hampir saja aku teriak.
“Tidak.” Mirna membentangkan kakinya sejauh celananya memungkinkan untuk itu dan dia memandangku lewat bahunya. “Dia harus menggendong bayi dan mengeluarkan semua barangnya. Biasanya dia memerlukan beberapa menit. Sekarang kemarilah dan setubuhi aku.”

Mirna telah telanjang dari pinggang hingga kaki, dan dia memohon padaku agar segera memasukkan diriku dalam tubuhnya. Aku menatap dua lubang yang mengundang itu. Pantatnya begitu kencang dan aku tak terusik saat melihat lubang anusnya yang berkerut kemerahan, dan di bawahnya, bibir vaginanya yang merah, terlihat mengkilap basah. Kakinya tak sejenjang model, tapi lebih kecil dan terasa pas, dan aku membayangkan bercinta dengannya beberapa jam.

Tangannya bergerak kebelakang diantara pahanya dan menempatkan tangannya pada vaginanya. Dengan dua jarinya dilebarkannya bibir vaginanya hingga terbuka, dan aku dapat melihat lubang merah mudanya mengundang penisku agar segera masuk. “Ayo,” katanya. “Ambil aku.”

Aku tak tahu apa dia sedang bercanda saat mengatakannya. Yoyok atau bukan, rangsangan ini lebih dari cukup untuk mereguk birahinya. Aku melangkah ke belakang menantuku dan menempatkan penisku di kewanitaannya. Saat aku mendorong penisku melewati lubang surganya yang sempit, aku dapat merasakan jari Mirna menahan bibir madunya agar tetap terbuka, dan dia melenguh saat aku memegang pinggangnya dan memasukkan diriku padanya.

Mirna telah sangat basah hingga aku dengan mudah melewati vagina mudanya yang sempit. Aku mulai mengayunkan barangku di dalamnya, sebagian didorong oleh nafsu akan tubuh menggairahkannya dan sebagian oleh rasa takut jika Yoyok memergoki kami. Mirna mengerang, dan aku dapat merasakan jarinya menggosok kelentit dan bibir vaginanya sendiri. Nafasnya mulai tersengal, dan setelah beberapa goyangan dariku, dia segera orgasme. Suara rengekan pelan keluar dari bibirnya saat dia mencengkeram pinggiran meja dengan kuat, dan letupan orgasmenya menggoncang kami berdua saat aku menghentaknya.

Itu cukup untuk menghantarku. Aku tak berhubungan dengan wanita dalam setahun ini, dan aku belum pernah mendapatkan yang sepanas Mirna. Aku menahan nafas dan mendorong seluruh kelaki-lakianku ke dalam dirinya. Kami mematung, dan kemudian spermaku menyemprot dengan hebat jauh di dalam surganya. Serasa aku telah mengguyurnya dengan sperma yang panas dan berlebih. Dia mengerang dalam nikmat, menggetarkan pantatnya di seputar penisku saat aku mengosongkan persediaan benihku. Dia melemah seiring dengan habisnya spermaku, dan kami akhirnya berhenti bergerak, kecuali untuk mengambil nafas.

Takut Yoyok akan datang sebelum kami sempat melepaskan diri, aku keluarkan diriku dari tubuhnya dengan bunyi plop yang basah, lalu mundur menjauh dan mengenakan celanaku. Mirna masih tetap berbaring tertelungkup di atas meja merasakan kehangatan campuran cairan birahi kami, pantat telanjangnya masih tetap memanggilku. Aku lihat spermaku dan cairannya mulai meleleh keluar dari bibir surganya. Aku palingkan muka dan melihat Yoyok hampir sampai di pintu belakang, bayi di tangan yang satu dan belanjaan di tangan lainnya.

Aku berbalik dan memohon pada Mirna. ” Ayolah!” kataku. “Kamu telah dapatkan keinginanmu. Dia hampir sampai kemari.”

Mirna bangkit, tatapan matanya masih kelihatan linglung. Dia bergerak ke depanku, menjadikanku sebagai penghalang dari pandangan suaminya saat dia dengan tergesa-gesa memakai celananya.

“Apa kalian sudah siap untuk pertandingannya?” tanya Yoyok sambil membuka pintu.
“Ya,” aku menjawab dari balik punggungku saat aku diam untuk menghalangi Mirna yang menaikkan resletingnya. Setelah dia selesai, aku segera berbalik untuk menyambut Yoyok.

“Ini,” katanya, menyodorkan bayinya padaku dan meletakkan belanjaannya diatas meja dapur.
“Urus ini, aku akan mengambil popok bayi.” Yoyok melangkah ke pintu yang masih terbuka, dan aku menghampiri Mirna. Dia masih terlihat sedikit linglung.

“Hampir saja,” kataku.
“Sini, biar aku yang menggendongnya.”
Aku berikan bayinya. Mirna memberiku pemandangan seraut wajah dari seorang wanita yang puas sehabis bersetubuh, dan memberiku ciuman hangat yang basah.

“Masih ada satu hal lagi yang harus kuketahui,”katanya.
“Apa itu?”
“Kalau aku ingin, bisakah aku mendapatkannya besok?”

Dan dia melenggang begitu saja tanpa menunggu jawabanku yang hanya melongo bengong. Dia yakin kalau akan bersedia…

Posted in bapak mertua | Tagged: | 4 Comments »

Ipar kakakku.

Posted by premium on July 21, 2008

ku tinggal bersama kakakku dan suaminya. Mereka berdua belum punya anak dan sering pergi untuk mengerjakan urusan bisnisnya masing2. Pokoknya orang2 yang terkategori super sibuk lah. Suatu waktu mereka bersama akan ke Singapore selama seminggu, bersamaan dengan itu ipar kakakku, adik suaminya, datang menginap dirumah. Dia, mas Arman, tinggal dikota lain dan sedang tugas di Jakarta, sehingga tinggal dirumah abangnya. Pagi itu, setelah kakakku dan suaminya berangkat ke airport, aku menyediakan makan pagi untukku dan mas Arman. Setelah siap aku memanggil mas Arman, “Mas, sarapan mas.”. Aku memanggilnya sembari mendorong pintu kamarnya, ternyata dia masih tidur dengan hanya memakai cd. Napsuku langsung timbul melihat pemandangan indah, tubuh yang kekar dan toketnya yang bidang hanya dibalut sepotong cd dimana terlihat jelas kontolnya besar dan panjang tercetak dengan jelas di cdnya. Kayaknya kontolnya dah tegang berat. Karena pintu kamar berbunyi ketika aku buka, tiba2 mas Arman membuka matanya, memandangku yang sedang terkagum2 melihat bodi dan kontolnya. “Kenapa Nes?’, tanyanya sambil senyum2. Dia tau bahwa aku sedang mengagumi bodi dan juga kontolnya. Aku jadi tersipu malu. “Sarapan dulu mas, ntar dingin”, kataku sambil keluar kamar. Lama kutunggu tapi dia gak keluar juga dari kamar, sementara itu napsuku makin berkobar membayangkan kontolnya yang besar dan panjang itu. “Mas”, panggilku lagi, tapi tetap gak ada jawaban. Aku kembali ke kamarnya.

Dia rupanya sedang telentang sambil mengusap2 kontolnya dari luar cdnya. Ketika dia melihat aku ada dipintu kamar, sengaja dia pelan2 menurunkan cdnya sehingga nongollah kontolnya yang besar mengacung dengan gagahnya. Aku terbelalak ngeliat kontol segede itu. “Kamu pengen ngerasain kontolku ya Nes”, katanya terus terang. “Belum pernah ya ngerasain kontol segede aku punya. Aku juga napsu ngeliat kamu Nes, bodi kamu merangsang banget deh”. Dia bangun dalam keadaan telanjang bulat menuju ke tempat aku berdiri. Kontolnya yang tegang berat berayun2 seirama jalannya. DIa segera memelukku dan menarikku ke ranjang, dirumah memang gak ada siapa2 lagi. Dasterku segera dilepaskannya, begitu juga bra dan cdku. Dia meneguk liur memandangi tubuh telanjang ku yang mulus, toket yang besar dengan pentil yang dah mengeras dan jembutku yang lebat menutupi nonokku dibawah sana. Kemudian dia mencium serta mengulum bibirku. Aku balas memeluknya. Bibirku digigitnya pelan pelan, bibirnya turun terus menciumi seluruh lekuk tubuhku mulai dari leher terus kebawah kepentilku, dikulumnya pentilku yang sudah mengeras, aku merintih rintih karena nikmat. Aku menekan kepalanya ke toketku sehingga wajahnya terbenam di toketku. Dia terus menjelajahi tubuhku, dijilatinya pelan dari bagian bawah toketku sampe ke puser. Aku makin mendesis2, apalagi ketika jilatannya sampe ke nonokku yang berjembut tebal. Dia menjilati jembutku dulu sampe jembutku menjadi basah kuyup, pelan pelan jilatannya mulai menyusuri bibir nonokku terus ke itilku. Ketika lidahnya menyentuh itilku, aku terlonjak kegelian. Dia menahan kakiku dan pelan2 dikuakkannya pahaku sehingga kepalanya tepat berada diantara pahaku. Lidahnya menyusupi nonokku dan menjilati itilku yang makin membengkak. Nonokku berlendir, dia menjilati lendir yang keluar. Aku gak tahan lagi, aku mengejan dengan suara serak, tanganku mencengkeram seprei dan kakiku menjepit kepalanya yang ada diselangkanganku. Aku yampe. “Mas, nikmat banget deh, padahal belum dientot ya”, kataku mendesah.

Mas Arman diam saja, dan berbaring telentang. “Kamu diatas ya Nes, biar masuknya dalem”, ajaknya. Aku mulai mengambil posisi berjongkok tepat diantara kontolnya yang sudah tegang berat. “Aku masukkin kontolku ke nonok kamu ya Nes”, katanya sambil mengarahkan kontolnya menyentuh bibir nonokku. Dia tidak masuk menekankan kontolnya masuk ke nonokku tapi
digesek2kan di bibir nonokku yang berlendir sehingga kepalanya yang besar itu basah dan mengkilap.Aku terbuai, dengan mata terpejam aku mendesah2 saking napsunya, “Mas, masukin dong.” Aku mulai menekan kepala kontolnya yang sudah pas berada di mulut nonokku. Pelan2 kontolnya menyusup kedalam nonokku, “Akh mas, gede banget”, erangku. “Apanya yang besar Nes”, dia memancing reaksiku. “Punyanya maass..!!” “..Apa namanya..?” dia memancing lagi, aku langsung aja menjawab, “kontol mas, besar sekali”. Dengan sekali hentakan keatas kontolnya menyeruak masuk nonokku. “Ooh mas, pelan2 mas”, aku mendesah lirih. Mataku terbeliak, mulutku terbuka, tanganku mencengkeranm seprei kuat2. Bibir nonokku sampe terkuak lebar seakan tidak muat untuk menelan kontol besarnya. “Nonok kamu sempit sekali Nes”, jawabnya. Aku mulai berirama menaik turunkan pantatku, kontolnya masuk merojok nonokku tahap demi tahap sehingga akhirnya ambles semuanya. Pelan2 dia ikut bergoyang menarik ulur kontol besarnya. Aku mulai
merasa sensasi yang luar biasa nikmatnya. Nonokku yang sudah licin terasa penuh sesak kemasukan kontolnya yang besar, kontolnya terasa banget menggesek nonokku yang sudah basah berlendir itu. “Mas, enak banget mas, terus mas”, erangku. “Terus diapain Nes”, jawabnya menggoda aku lagi. “Terus entotin nonok Ines mas”, jawabku to the point. “Entotin pake kontol gede mas”. Enjotannya dari bawah makin menggebu sehingga aku makin menggeliat2. Aku memeluknya dan mencium bibirnya dengan garesif, dia menyambut ciumanku. Nafasku memburu kencang, lidahku saling mengait dengan lidahnya, saling menyedot. Kemudian dia menggulingkan aku sehingga aku dibawah, dia mulai mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat. Aku mengangkangkan pahaku lebar2, supaya dia lebih mudah menyodokan kontolnya keluar masuk. Keluar masuknya kontolnya sampe menimbulkan suara berdecak2 yang seirama dengan keluar masuknya kontolnya, karena basahnya nonokku. “Mas, enak sekali kontolmu mas, entotin nonok Ines yang cepet mas, nikmat banget”, desahku. “Ooh nonok kamu sempit banget Nes, terasa banget sedotannya. Nikmat banget deh”, jawabnya sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku. Enjotannya makin ganas, pentilku diemut2nya. Aku menggelinjang kenikmatan, toket kubusungkan dan kugerak2kan kekiri kekanan supaya 2 pentilku mendapat giliran diemut,
“Ssh, mas, nikmat banget ngentot ama mas, pentil Ines dikenyot terus mas”, erangku lagi. “Ines bisa ketagihan dientot ama mas. Ooh mas, Ines gak tahan lagi mas, mau nyampeee”. Aku mengejang sambil memeluk tubuhnya erat2, sambil menikmati kenikmatan yang melanda tubuhku, luar biasa rasanya. “Nes, aku masih pengen ngentotin nonok kamu yang lama. Kamu bisa nyampe lagi berkali2″, katanya sambil terus mengenjotkan kontolnya.

Mas Arman minta ganti posisi, aku disuruhnya nungging dan nonokku dientot dari belakang, nonokku terasa berdenyut menyambut masuknya kontolnya. Aku memutar2 pantatku mengiringi enjotan kontolnya, kalo dia mengenjotkan kontolnya masuk aku menyambutnya dengan mendorong pantatku dengan keras ke belakang sehingga kontol besarnya masuk dalem sekali ke nonokku. “Ooh nikmatnya mas, dientot dari belakang. Kerasa banget geseken kontol mas di nonok Ines”. Jarinya mengilik2 itilku sambil terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk. ” Uuh mas, nikmat banget mas, terus mainin itil Ines mas sambil ngenjot nonok Ines”, erangku saking nikmatnya. Jarinya terus menekan itilku sambil diputar2, aku mencengkeram seprei erat sekali. Pantat makin kutunggingkan keatas supaya enjotannya makin terasa. Dia memegangi pinggangku sambil mengenjotkan kontolnya keluar masuk dengan cepat dan keras. “Mas, nikmat banget mas, Ines udah gak tahan neh, mau nyampe lagiii”, aku menjadi histeris ketika nyampe untuk kedua kalinya, lebih nikmat dari yang pertama. Diapun mencabut kontolnya dari nonokku dan berbaring disebelahku. “Mas. belum ngecret kok dicabut kontolnya”, tanyaku. “Ines masih mau kok mas dientot lagi, biar bisa nyampe lagi”. Dia setengah bangun dan membelai rambutku, “Kamu masih bisa nyampe lagi kok Nes”.”Ines mau kok dientot mas seharian, kan Ines bisa nyampe terus2an, nikmat banget deh mas”.

Istirahat sebentar, mas Arman kembali menaiki aku lagi, secara perlahan tapi pasti dia pun memasukkan kontolnya ke dalam nonokku. Aku mendesah dan merintih, ketika dia mengenjotkan kontolnya sampe ambles semua aku kembali menjerit, “Aaaaaaahhhh , Maaaassssssss ..”. kontolnya dinaikturunkan dengan cepat, akupun mengimbanginya dengan gerakan pantatku yang sebaliknya. Bibirnya bermain di pentilku, sesekali dia menciumi ketekku, bau keringatnya merangsang katanya. Aku memeluknya dan mengelus2 punggungnya sambil menjerit dan mendesah karena nikmat banget rasanya, “Aah mas, nikmatnya. Terus mas, tekan yang keras, aah”. Dia meremas2 toketku dengan gemas menambah nikmat buatku. Dia terus mengocok nonokku dengan kontolnya, aku menjadi makin histeris dan berteriak2 kenikmatan. Tiba2 dia mencabut kontolnya dari nonokku, aku protes, “Kok dicabut lagi mas, Ines belum nyampe mas, dimasukin lagi dong kontolnya”. Tapi dia segera menelungkup diatas nonokku dan mulai menjilati bagian dalam pahaku, kemudian nonokku dan terakhir itilku. “Mas, diapa2in sama mas nikmat ya mas, terus isep itil Ines mas, aah”, erangku. Dia memutar badannya dan menyodorkan kontolnya ke mulutku. Kontolnya kujilati dan kukenyot2, dia mengerang tapi tidak melepaskan menjilati nonokku yang dipenuhi lendir itu. “Nes, aku dah mau ngecret neh”, katanya sambil mencabut kontolnya dari mulutku dan segera dimasukkan kembali ke nonokku. Dia mulai mengenjot nonokku dengan cepat dan keras, aku rasanya juga sudah mau nyampe lagi, goyangan pantatku menjadi makin liar sambil mendesah2 kenikmatan. Akhirnya dia mengenjotkan kontolnya dalam2 di nonokku dan terasa semburan pejunya yang hangat didalam nonokku, banyak sekali ngecretnya, bersamaan dengan ngecretnya akupun nyampe lagi. Aku memeluk tubuhnya erat2, demikian pula dia. “Mas, nikmat banget deh masss”, erangku. Aku terkulai lemes dan bermandikan keringat. Dia kemudian mencabut kontolnya dan berbaring disebelahku.

Tak lama kemudian, kita bangun dan membersihkan badan di kamar mandi. Tidak ada aktivitas lanjutan di kamar mandi karena mas Arman harus melakukan tugasnya pagi ini. Selesai membersihkan badan, kita sarapan, kemudian mas Arman pergi, akupun melakukan aktivitas harianku. Sorenya ketika aku pulang ke rumah, mas Arman belum kembali, biasanya memang dia pulangnya malam. Akupun mandi, menyiapkan makan malam untukku sendiri, kemudian kusantap sambil nonton tv. Sepi juga rasanya setelah tadi pagi menreguk kenikmatan dengan mas Arman. Aku bersantai sambil nonton tv sampai kantuk datang menyerang. TV kumatikan dan aku masuk kamarku, rebahan diranjang dan tak lama kemudian aku tertidur. Tidak tau berapa lama aku tertidur, aku terbangun karena toketku terasa ada yang meremas2. Aku membuka mata, kulihat mas Arman tersenyum melihatku, “Nes, ngelanjutin yang tadi pagi mau enggak”. Dia sudah bertelanjang bulat berbaring disebelahku. Kontol besarnya sudah ngaceng sempurna. Tanpa menunggu jawabkanku, segera aku ditelanjanginya, bibirku diciuminya sambil meremas2 toketku yang sudah mulai mengeras, pentilku di pilin2nya, aku hanya bisa ber ah uh karena rangsangan yang luar biasa itu. Aku malah mengimbangi ciuman ganasnya. Pentilku langsung diserbunya, diemut2nya dengan rakusnya sehingga pentilku langsung mengeras, sementara itu toketku terus saja diremas2nya. Puas mengemut pentilku, jilatan lidahnya turun ke arah perutku, terus ke bawah lagi dan mampir di nonokku. Lidahnya segera membelah bibir nonokku dan menjilati itilku, aku mengangkangkan pahaku sehingga mempermudah dia menggarap itilku. Aku mulai mengerang2 saking nikmatnya yang melanda tubuhku. “Aasshhg.. hngghh.. ssshhhg..” badanku melintir,
bergeliat-geliat oleh kilikan jilatan di itilku. Dia makin bersemangat karena eranganku. Tiba2 dia melepaskan jilatnnya, segera menaiki tubuhku yang sudah telentang pasrah, siap untuk dienjot, dia membasahi kepala kontolnya dengan ludahnya kemudian ditempelkan ke bibir nonokku dan langsung ditusuk masuk. “Hhgghh..” sekali lagi aku mengejang kali ini oleh sodokan kontolnya. Tapi karena sudah cukup siap, dengan mudahnya dia menancapkan kontolnya ke dalam nonokku. Aku menggelepar ketika menyambut masuknya kontolnya yang cepat amblas ke dalam nonokku. Begitu tertanam didalam, kontolnya dienjotkan keluar masuk pelan2. Terasa banget kontolnya yang besar
menyeruak masuk mengisi lobang nonokku yang terdalam. “Hhsssh, dalemm bangett mas”, spontan keluar eranganku, “nikmat banget rasanya”. Dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk, aku merangkul lehernya dan kedua kakiku membelit pahanya. Dia makin gencar mengenjotkan kontolnya keluar masuk sehingga aku makin menggeliat saking nikmatnya. “Mas, ennakk. Duhh dalem bangett masuknya mas. Aaa.. dikorek-korek gitu Ines pengenn kluarr. Ayyo mas..adduuh”, erangku gak karuan. “.. Iyya ayyo aaahhgh.. ssshgh.. hghrf.. ennaak nonokmu Nes, aku juga mo ngecret .. sshmmmh..” “Hhsss.. aduuhh tobatt mas.. hahgh ooghh.. kontolnya masuk dalem sekali mas, gedee sekalli, aduuh.. mas. lebih nikmat dari tadi pagi deh.” Kontolnya makin dipompa keras2, nikmat banget rasanya. “Heg.. yaang kerass mas.. shh, iya gittu..aduh..ssshgh.. heehh.. ayyo.. ayoo mas.. aaahgh.. sshgh. Ines udah mo nyampe.. aduhh.. hghshh.. hrrgh..” Dia meremas2 toketku, sampai akhirnya akupun nyampe. Dadaku membusung, seolah-olah tubuhku
terangkat-angkat oleh tarikannya yang meremasi kedua toketku. Tapi menjelang tiba di saat dia ngecret, dia mencabut kontolnya dan langsung tegak berlutut sambil menarik kedua lenganku sehingga aku ikut bangun terduduk. Dia menekan kepalaku ke arah kontolku yang tegang mengangguk2 berlumuran cairan nonokku. ‘”Ayo Nes isepin sampe ngecret.” Tanpa ragu-ragu aku langsung mencaplok dan mengocok kontolnya dengan mulutku. Tidak bisa semua, hanya tertampung kepalanya saja dimulutku, tapi ini sudah cukup membuat dia ngecret di mulutku. Aku agak tersedak karena semprotan pejunya yang tiba2, dia terus menekan kepalaku supaya tidak melepaskan kulumanku sehingga pejunya tertelan olehku. Setelah keluar semua, aku melepas mulutku, langsung meringis. “Kenapa Nes, nggak enak ya rasanya?” tanyanya geli. “Asin rasanya mas..” jawabku ikut geli. “Emang enak sih dikeluarin pake mulut?” kataku sambil bergerak bangun untuk ke kamar mandi mencuci bekas-bekas permainan ini. “Oo.. sama kamu sih pasti enak aja.”
jawabnya sambil ikut bangun menyusulku.

Di kamar mandi, mas Arman memelukku dari belakang, aku belum sempet bebersih ketika tangannya mulai meremas toketku, pentilnya diplintir2 sambil menciumi kudukku. Aku menggelinjang kegelian. Aku mencari kontolnya, astaga, sudah mulai ngaceng lagi rupanya. Kuat banget dia, baru aja ngecret di mulutku sudah mulai ngaceng lagi. “Kuat banget sih mas, baru Ines emut sampe ngecret udah ngaceng lagi”, kataku. “Iya tadi kan ngecret dimulut kamu, sekarang pengen ngecret lagi di nonok kamu”, jawabnya sambil terus meremesi toketku. Leherku terus saja diciumi, dijilati dengan penuh napsu. Akupun tidak tinggal diam, kontolnya yang makin keras aku remes dan kocok2 biar sempurna ngacengnya. “Mas, Ines isep lagi ya”, kataku sambil jongkok di depannya. Ujung kontolnya kujilati dan kemudian giliran kepala kontolnya, terus ke pangkalnya, kemudian ke biji pelernya. Dia mengangkat kaki kanannya supaya aku mudah menjilati kontolnya. Kemudian jilatanku naik lagi keatas, dan kepalanya langsung kukulum. Kepalaku mengangguk2
seiring keluar masuknya kontolnya dimulutku, sambil ngisep, biji pelernya aku elus2. “AAh Nes, nikmat banget deh”, erangnya. Dia memegang rambutku dan mendorong kontolnya keluar masuk mulutku dengan pelan. Sepertinya dia udah tidak tahan lagi, aku diseretnya keluar kamar mandi dan
ditelentangkan di ranjang. Pentilku menjadi sasaran jilatannya, jilatan berubah menjadi emutan, bergantian pentil kiri dan kanan. kemudian jilatannya turun ke perut, kemudian ke pusar sampe akhirnya ke jembutku. Jarinya mulai mengelus bibir nonokku, kemudian jilatannya mulai menjelajahi nonokku yang sudah basah kembali. Jilatannya tidak langsung ke itilku tapi berputar2 sekitar nonokku. Ke daerah paha, terus kedaerah pantat dan naik lagi. “Mas, nakal ih”, desahku, napsu sudah kembali menguasaiku. Jilatannya diarahkan ke itilku sambil memasukkan jarinya ke nonokku. Dia menggerakkan jarinya keluar masuk nonokku. “Maas”, desahku saking napsunya. pinggulku menggeliat kekiri kekanan.

Akhirnya sampailah saat yang kutunggu2, mas Arman menaiki badanku, ditindihnya aku, kontolnya diarahkan ke nonokku yang sudah basah banget. Kepalanya diusap2kan dibibir nonokku. Aku mengangkat pantatku ke atas sehingga bless masuklah kepala kontolnya membelah nonokku. Dia mulai mengeluar masukkan kontolnya ke nonokku, pelan2, makin lama makin cepat, sampe akhirnya dengan satu enjotan yang keras, seluruh kontolnya nancep dalem sekali di nonokku. “Maas, nikmat sekali”, jeritku. Aku menggelinjang makin gak beraturan seiring dengan enjotan kontolnya keluar masuk nonokku dengan cepat dan keras. Kakiku menjepit pinggulnya, kemudian diletakkan di pundaknya, dia pada posisi berlutut, makin terasa gesekan kontolnya ke dinding nonokku, nikmat banget. Nonokku mulai berdenyut2 meremes2 kontolnya yang terus bergerak lincah keluar masuk. “Mas, Ines udah mau nyampe nih, terus enjot yang keras mas, aah”, erangku lagi. Dia makin semangat mengenjot nonokku. Tiba2 dia berhenti dan mencabut kontolnya, “Maas”, protesku. Ternyata dia pengen ganti posisi. Aku disuruhnya nungging dan kembali kontolnya melesak masuk nonokku dari belakang, doggie style. pantatku dipeganginya sementara dia mengenjotkan kontolnya keluar masuk. Toketku yang berguncang2 seirama dengan enjotan kontolnya diraihnya, diremes2nya, pentilnya diplintir2, menambah kenikmatan yang sedang mendera tubuhku. “Terus maas”, erangku lagi, aku mencengkeram seprei dengan kuat saking nikmatnya. Aku memaju mundurkan badanku supaya kontolnya nancep dalem sekali di nonokku, sampe akhirnya, “Terus maas, Ines nyampe lagiii”. Dinding nonokku berdenyut2 mengiringi sampenya aku, dia terus saja mengenjot nonokku dengan cepat. Aku nelungkup, capai banget rasanya meladeni napsunya. Dia membaringkan dirinya, kontolnya masih tegak berdiri berlumuran cairan nonokku. “Nes, kamu yang diatas ya, aku belum keluar neh”, pintanya.

Aku menempatkan diriku diatasnya, kontolnya kupegang dan langsung kutancapkan ke nonokku, badan kutekan kebawah sehingga langsung aja kontolnya ambles semua di nonokku. Aku mulai menggoyang pinggulku, kekiri kekanan, maju mundur, berputar2. biar cape, tapi nikmat banget rasanya gesekan kontolnya ke nonokku. Toketku diremes2nya sambil memlintir2 pentilnya. Aku merubah gerakanku menjadi keatas kebawah mengocok kontolnya dengan nonokku. “Mas, nikmat banget deh”, erangku. Akhirnya aku tidak bisa menahan diriku lebih lama lagi, aku ambruk didadanya karena nyampe untuk kesekian kalinya. “Mas, belum mau ngecret ya, Ines lemes mas”, desahku. “Tapi nikmat kan”, jawabnya. “Nikmat banget mas”. Dia berguling tanpa mencabut kontolnya dari nonokku sehingga sekarang dia ada diatasku. dia mulai lagi mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku. “Nes, aku udah mau ngecret, erangnya sambil mempercepat enjotannya. Dia terus mengenjotkan kontolnya keluar masuk nonokku, sampe akhirnya, “Nes”, erangnya. terasa sekali semburan pejunya membanjiri nonokku. Kami berdua terkulai lemas.

Hal itu kita ulangi berkali2 selama dia tinggal dirumah kakakku, setelah kakakku kembalipun kita masih tetap melakukannya, sampai dia menyelesaikan tugasnya dan kembali ke kotanya.

Posted in kakak ipar | Tagged: , , | 4 Comments »

Emak dan Anaknya

Posted by premium on July 21, 2008

Pagi tadi, awal-awal lagi Sidek keluar pergi bertugas. Kali ini perginya agak lama, mungkin sebulan dua. Halimah berlagak sedih disaat pemergian suaminya, sedangkan dihatinya bersorak kegirangan. Setelah pemergian Sidek, Halimah terus ke bilik air, mandi membersihkan diri. Sisa air mani Sidek yang masih pekat di celah punggungnya dibersihkan. Begitu juga kesan air mani Sidek yang kering dan melekat di perutnya yang buncit itu.
Selesai mandi, Halimah terus ke biliknya. Rambutnya dikeringkan menggunakan tuala. Seluruh tubuhnya di lap hingga kering. Tangannya membuka almari pakaian, memilih pakaian apa yang hendak dipakai hari itu. Kain batik merah dipilihnya. Tanpa memakai seluar dalam, dia terus menyarungkan kain batik di tubuhnya. Lilitan di pinggang diikat kemas. Kemudian dia memilih baju apa yang hendak dipadankan. Matanya tertarik dengan baju t-shirt kuning cair yang terlipat kemas. Terus dicapainya dan dibelek-belek. Nampak kecil baju itu, pasti ianya akan sendat di tubuhnya. Malah, agak singkat. Pasti tundun dan perutnya yang buncit itu jelas kelihatan. Halimah terus memakai coli berwarna hitam dan disarungkan baju t-shirt itu ke tubuhnya. Tubuhnya ibarat sarung nangka yang sendat dibalut baju t-shirt kuning cair yang ketat dan singkat. Seluruh lengkuk dan bonjolan di tubuhnya jelas kelihatan. Dia kelihatan seksi berpakaian sebegitu. Meskipun tubuhnya tidak ramping lagi seperti diusia muda, namun kemontokan tubuhnya yang mengembang seiring dengan usianya benar-benar terserlah. Lengannya yang montok dan gebu kelihatan sendat, begitu juga tubuhnya yang sendat di baluti bau t-shirt itu. Coli hitam yang dipakai dapat dilihat dengan jelas dari baju yang dipakai. Perutnya yang buncit serta tundunnya yang membukit tembam terpampang di balik kain batik yang katat membalut dirinya. Apatah lagi punggungnya. Tubuhnya yang lentik itu semakin menyerlahkan punggungnya yang tonggek lantaran baju t dan kain batik yang dipakai amat sendat. Kemontokan punggung lebarnya yang besar itu tidak mampu disembunyikan oleh baju t-shirtnya. Baju t-shirtnya terselak ke pinggang, menyerlahkan seluruh punggungnya yang sendat dibaluti kain batik merah itu. Halimah mengambil tudung berwarna kuning, dipakai di kepalanya dan kemudian dia terus keluar menuju ke bengkel tempat Meon bekerja.
Suasana di bengkel tersebut tidak terlalu sibuk. Bos Meon keluar minum di kedai kopi di hujung sana, yang tinggal hanya Meon dan seorang pelanggan yang sedang menunggu motorsikalnya siap di baiki Meon. Halimah berjalan menuju ke arah Meon yang sedang mencangkung membaiki sesuatu di bawah enjin motor. Mata pelanggan yang sedang menunggu motorsikalnya siap dibaiki itu terpukau melihat seluruh tubuh montok Halimah yang sedang berjalan menuju ke arah Meon. Buah dada Halimah yang sederhana dan sedikit melayut itu di tatap geram. Perut buncit Halimah yang sendat dibaluti t-shirt itu ditatap penuh nafsu hingga pandangannya turun ke tundunnya yang tembam.
Halimah menghampiri Meon. Meon yang sedar kehadiran emaknya serta merta menghentikan tugasnya sebentar. Pandangan matanya seperti tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Seluruh tubuh montok Halimah di tatapnya atas dan bawah.
“Err… mak… ada apa mak..” Tanya Meon kepada emaknya.
“Tak de.. mak nak tanya je.. Jom balik kejap.. mak ada buat sarapan sikit. Kamu belum sarapan lagi tadi kan?” kata Halimah memancing anaknya.
“Emmm… kejap lagi ye mak.. Meon nak tunggu bos datang dulu.. takut tak siap motor pakcik ni.. “ jawab Meon.
“Ok… cepat sikit ye…” kata Halimah sambil berlalu meninggalkan Meon.
Mata Meon dan mata pelanggan itu bulat memerhatikan lenggok punggung Halimah yang montok dan sendat dibaluti kain batik merah itu. Kemudian Meon menyambung kembali tugasnya.
“Nak.. itu mak kamu ye?” Tanya pelanggan yang menunggu motornya siap itu.
“Ye pakcik… kenapa?” jawab Meon.
“Tak ada apa.. ehh.. kamu buat dulu lah ye.. pakcik nak beli rokok kejap..” kata pakcik itu.
Meon mengangguk sahaja sementara lelaki itu terus berlalu dari situ. Tujuannya bukanlah ke kedai rokok tetapi mengikut Halimah pulang dari jauh. Kemudian dia nampak Halimah masuk ke rumah melalui pintu dapur. Lelaki itu pun terus menuju ke sana. Pintu dapur yang tidak tertutup itu membolehkan dia melihat kelibat Halimah menyusun juadah sarapan pagi di atas meja.
“Ehh.. pakcik.. buat apa kat situ?” Tanya Halimah setelah disedarinya dirinya diperhatikan oleh seseorang dari luar rumah.
“Tak ada apa… pakcik saja jalan-jalan… kamu tinggal disini ye?” Tanya lelaki itu.
“Ye pakcik.. errr.. pakcik yang dekat bengkel tadi kan?” Tanya Halimah.
“Ye… ohh.. boleh kita berbual kejap? Boleh saya masuk?” Tanya lelaki itu sambil kakinya terus melangkah masuk sebelum dipelawa Halimah.
“Err… oo.. masuklah…” jawab Halimah serba tak kena.
Kemudian lelaki itu terus berdiri dekat dengan Halimah yang sedang menunduk-nunduk menyediakan sarapan di atas meja. Punggung Halimah yang tonggek dan sendat berkain batik itu ditatapnya geram.
“Adik.. saya suka tengok adik ni dari bengkel tadi..” kata lelaki itu.
“Suaminya mana?” Tanya lelaki itu lagi.
“Dia keluar pergi buang air besar.. tu hah kat jamban belakang rumah..” kata Halimah menipu lelaki itu sambil jarinya menunjuk kepada tandas di belakang rumah yang sebenarnya sudah tidak digunakan lagi.
“Ohh… dia ada kat sini ye.. oklah… pakcik pun nak cepat ni.. tapi sebelum suami adik tu keluar dari jamban, boleh tak adik tolong pakcik sekejap..” kata lelaki itu.
“Tolong apa pakcik?” Tanya Halimah.
Tanpa berkata apa-apa, lelaki itu pun terus mengeluarkan zakarnya yang sudah tegang dari zip seluar yang sudah dibukanya. Dilancap zakarnya sendiri di hadapan Halimah sambil matanya melahap seluruh kemontokan tubuh Halimah.
Halimah tahu kehendak lelaki itu, tetapi dia tidak berselera dengan lelaki yang sudah tua itu. Di lihatnya zakar lelaki itu sudah tegang namun tak semantap kepunyaan anaknya, Meon.
“Dik… Pakcik suka badan adik.. Tolong buatkan pakcik ye… tolong ye…” kata lelaki itu sambil menghulurkan zakarnya kepada Halimah.
“Apa ni? Baik pakcik keluar sebelum saya jerit kuat-kuat. Biar suami saya belasah pakcik sampai mati. Cepat! Keluar!” bentak Halimah sambil terus menolak lelaki itu keluar dari rumah.
Menyedari peluangnya untuk menikmati tubuh wanita montok itu tidak kesampaian, lelaki itu terus melancap laju, dengan harapan air maninya sempat menyembur keluar selagi tubuh montok yang sendat dibaluti pakaian-pakaian yang sendat itu masih di depan mata. Sambil dia berundur ke belakang akibat ditolak oleh Halimah, sambil itulah dia mengambil kesempatan untuk menjamu matanya sambil melancap memerhati tubuh seksi itu.
Akhirnya, memancut-mancut air mani lelaki itu terus ke perut, tundun dan peha Halimah. Habis bertompok baju t dan kain batik Halimah dengan lendir pekat lelaki tua itu. Halimah semakin geram, ditolaknya tubuh lelaki itu lebih kuat. Lelaki itu pun mengambil kesempatan menyimpan zakarnya yang semakin mengecil kembail ke dalam seluar.
“Ok… saya keluar… Ok… terima kasih ye dik…” kata lelaki tua itu sambil terus keluar dari rumah, sambil tangannya mengambil peluang meramas pinggul Halimah dan terus berlalu keluar dari situ.
Halimah berdebar-debar. Selama ini disangkakan tubuhnya tidak menarik lagi, tetapi nampaknya dia silap. Rupa-rupanya masih ada orang yang mengharap untuk menikmati tubuhnya. Mungkin cara pemakaian yang harus dititik beratkan untuk menampilkan tubuhnya agar kelihatan lebih seksi. Jika sebelum ini, hanya baju kurung yang longgar selalu menyarung tubuhnya untuk keluar rumah, kini Halimah tahu, dia harus lebih berani mengenakan pakaian yang lebih mendedahkan kemontokan tubuhnya. Halimah terus masuk ke bilik, menanggalkan seluruh pakaiannya. Halimah berbogel mencari pakaian di dalam almari pakaian. Matanya tertumpu kepada sepasang kebaya jawa yang terlipat kemas di almarinya. Itu baju yang dipakai sewaktu Meon masih kecil dahulu. Tak tahulah samada masih muat atau tidak. Dengan berhati-hati Halimah menyarungkan kain batik lepas itu di tubuhnya.
“Hmm… ketat juga… tak la teruk sangat… selesa juga…” bisik hati Halimah sambil memusing-musingkan tubuhnya bergaya di hadapan cermin.
Punggungnya kelihatan sendat dibaluti kain batik lepas itu. Tundunnya semakin jelas ketembamannya bersama perutnya yang buncit. Kakinya dihulurkan ke hadapan. Kulit betisnya yang putih dan licin itu terserlah kelihatan dari belahan kainnya. Kainnya diselakkan lagi belahannya dan seluruh kakinya, dari hujung kaki hingga ke peha jelas kelihatan.
Kemudian Halimah memakai baju kebaya berwarna merah yang jarang dan bersulam bunga-bungaan itu. Agak sendat juga membalut tubuhnya tetapi masih boleh selesa dipakai. Halimah bergaya di depan cermin. Seluruh tubuhnya sendat dibaluti kebaya jawa yang ketat. Bajunya yang jarang jelas mempamerkan coli hitam yang terikat di tubuhnya yang putih melepak. Lurah buah dadanya kelihatan jelas di celah bukaan dada baju kebaya. Baju kebayanya kelihatan singkat di paras pinggang, mendedahkan seluruh bentuk pinggungnya yang tonggek dan besar itu terserlah kegebuannya di sebalik kain batik lepas yang sendat. Halimah kemudian terus keluar dari bilik dan menuju ke dapur. Ketika itu dia mendengar suara Meon memberi salam dan kelibat Meon masuk ke dapur mencuri tumpuannya.
Meon terpaku melihat emaknya bergaya sebegitu. Keberahiannya serta merta bangkit dan segera dia memeluk tubuh emaknya. Berkucupan penuh nafsu sambil tangannya meraba seluruh pelusuk tubuh emaknya. Halimah membiarkan segala perbuatan anaknya, dia suka diperlakukan begitu oleh anaknya. Halimah sedar, Meon tak tahan melihat dirinya berpakaian begitu, lalu dua pun terus berlutut di hadapan Meon. Zakar Meon yang keras itu di tarik keluar dari seluar pendek yang Meon pakai. Halimah terus menghisap zakar anaknya yang sedang bernafsu itu.
Meon sungguh terangsang melihat ibunya yang lengkap berbaju kebaya yang sendat itu sedang berlutut menghisap zakarnya. Dia membiarkan emaknya melahap seluruh zakarnya. Zakarnya terasa hangat keluar masuk di mulut comel emaknya.
Halimah juga sudah terangsang. Lalu dia terus bangun berdiri dan memeluk tubuh sasa Meon. Zakar Meon yang keras di himpit di perutnya yang lembut. Terasa kehangatan zakar anaknya seolah menyerap masuk ke daging dan lemak perutnya yang buncit.
“Meon sayang mak tak… “ Tanya Halimah sambil tangannya mula merocoh zakar anaknya.
“Sayanggg sangat…. Kenapa mak pakai baju lawa-lawa macam ni…” Tanya Meon.
“Hari ni hari istimewa…. Mak rindu sangat kat Meon…” kata Halimah.
Mereka kembali berkucupan seperti sepasang kekasih. Masing-masing saling meraba tubuh pasangan dengan penuh bernafsu. Halimah yang tahu keinginan Meon, terus menonggeng sambil berpaut di tepi meja makan. Punggungnya di gelek-gelek menggoda. Meon terus menyelak kain batik lepas emaknya dan terus menusuk zakar kerasnya masuk jauh ke lubuk gatal emaknya yang banjir itu. Tangannya memegang pinggul emaknya dan dia terus memacu sekuat hatinya.
Terjerit-jerit Halimah kesedapan menikmati tubuhnya dibelasah anaknya dalam keadaan menonggeng di meja makan. Halimah melentikkan tubuhnya dan ini membuatkan Meon semakin tak boleh tahan. Tubuh emaknya yang gebu dan sendat berbaju kebaya itu menggoncang nafsunya. Zakarnya semakin meleding keras mengembang pesat di dalam cipap emaknya. Nafsnya semakin terburu-buru seiring dengan peluh jantannya yang semakin timbul di dahinya. Akhirnya…
“Criiitttt!!! Criitttttt!!!” memancut-mancut air mani Meon membanjiri liang faraj emaknya.
Halimah mengemut zakar Meon agar mereka menikmati saat-saat indah itu dengan lebih lama. Dan setelah selesai, mereka bersarapan bersama-sama. Selepas bersarapan, Meon kembali ke bengkel dan menyambung kerjanya, sementara Halimah mengemas meja dapur.
Tiba-tiba, kedengaran suara lelaki memberi salam. Dia kenal akan suara itu. Segera dia menuju ke pintu dapur. Terlihat suaminya tersenyum-senyum berjalan menuju ke arahnya dari kereta yang diletakkan di halaman rumah.
“Ehh… abang…. Ada apa-apa yang tertinggal ke bang…” Tanya Halimah sambil tersenyum ke arah suaminya.
“Mesin gergaji tertinggal la Mah… Eh.. cantiknya Mah hari ni? Kenapa ni?” Tanya Sidek sambil terus masuk ke rumah.
“Alah… tadi Mah belek-belek baju-baju lama kat almari tu. Ternampak pulak baju kebaya ni. Tu yang Mah cuba pakai. Ok tak bang?” Tanya Halimah kepada suaminya.
“Hmm… ok juga… tak tahan abang tengok sarung nangka ni.. “ kata suaminya sambil tangannya meraba perut dan tundun isterinya.
Mereka berdua masuk ke dalam bilik. Halimah memulakan langkah mengucup bibir suaminya. Sidek tak tahan memeluk tubuh Halimah. Tangannya meramas setiap inci tubuh isterinya yang montok berlemak itu. Halimah menanggalkan seluar suaminya dan terus menangkap zakar suaminya yang keras menegak. Dilancapkan zakar suaminya hingga Sidek menggeliat kesedapan.
“Mah… hisap batang abang Mah… “ pinta Sidek kepada isterinya.
Halimah menurut. Dia terus melabuhkan punggung di tepi katil. Sidek berdiri merapati isterinya. Zakarnya yang keras itu didekatkan ke muka isterinya. Halimah terus mengolom zakar Sidek. Mulutnya menghisap zakar Sidek penuh perasaan, hingga matanya terpejam menikmati zakar lelaki yang keras menongkah mulutnya.
“Ohhh… sedapnya Mahh…. Hisap kuat lagi sayanggg… “ pinta Sidek penuh nafsu.
Halimah semakin galak menghisap zakar suaminya. Kepala takuk Sidek yang berkilat itu di nyonyot kuat. Sesekali lidahnya menyapu seluruh kepala zakar Sidek penuh nafsu. Sidek tak tahan diperlakukan sebegitu. Dia benar-benar merasakan nikmat diperlakukan sebegitu. Halimah mahu Sidek puas di mulutnya. Dia mahu Sidek cepat pergi kerja. Lagi cepat Sidek meninggalkan rumah lagi bagus. Hatinya berdebar-debar juga. Nasib baik Sidek balik bukan sewaktu dia dan anaknya berasmara di dapur tadi. Jika tidak, pasti buruk padahnya.
Sidek semakin tak tahan, hisapan dan koloman Halimah di zakarnya semakin laju dan menyedapkan. Bunyi air liur yang Halimah sedut menambah keberahian Sidek. Akhirnya, memancut-mancut air mani Sidek menyembur di dalam mulut Halimah. Halimah seperti biasa, meneguk setiap air mani yang ditakungnya. Berdegup-degup tekaknya meneguk air mani Sidek yang pekat dan kental itu.
Sidek kepuasan, terduduk di tepi Halimah yang menyandarkan kepala di bahunya. Tangan Sidek sibuk meramas seluruh punggung Halimah. Halimah membiarkan.
“Abang… nanti tak terlewat ke nak ke tempat kerja. Dah pukul 10 pagi ni..” kata Halimah.
“Alah sabarlah sayang…. Kalau dapat lagi seround dua ke apa salahnya… “ kata Sidek sambil tangannya mula menjalar masuk ke belahan kain batik lepas Halimah.
Tangan Sidek mengusap peha Halimah yang licin dan gebu itu. Kemudian tangannya meraba bulu-bulu halus di tundun Halimah yang tembam dan seterusnya jarinya menjalar ke belahan kelengkang Halimah yang becak itu.
Sidek bermain-main jarinya di lubuk berahi Halimah. Halimah terangsang. Jari hantu Sidek masuk menerobos ke lubang berahinya, hingga diselaputi cairan yang licin dan melekit. Berulang-ulang kali Sidek menjolok cipap Halimah dengan jarinya. Halimah hanya membiarkan penuh rela. Matanya terpejam menikmati cipapnya dilancapkan suaminya.
Sidek mengeluarkan jarinya dari lubang cipap Halimah, jarinya yang berlumuran dengan lendir itu di cium. Serta merta mukanya berubah.
“Mah…. Cuba bagi tahu abang… Macam mana boleh ada air mani dalam cipap Mah?” Tanya suaminya dalam nada sedikit marah.
“Alah abang ni… bukan ke itu air mani abang.. bukan ke pagi tadi kita main… “ kata Halimah sambil terus bangun berdiri melindungi cipapnya dari disentuh lagi oleh Sidek.
“Hey… mana ada.. Bila masa pulak abang lepas dalam cipap Mah? Bukan ke pagi tadi Mah yang mintak abang lepas dalam bontot? Lebih baik Mah cakap.. air mani siapa ni… jangan fakir abang tak kenal baunya! “ marah Sidek.
Halimah serta merta kaget. Wajahnya pucat lesi, peluh dingin mula menitik di dahinya. Dia terlupa, bahawa pada pagi itu, dia sendiri yang menginginkan lubang bontotnya disetubuhi zakar suaminya. Halimah sudah tiada alas an lagi yang hendak diberikan. Dia terus diam membisu.
“Mah… abang tak sangka… Mah curang belakang abang! Ini baru sekejap je abang tinggalkan.. Ntah macam mana kalau dah kena tinggal berbulan nanti… Abang kecewa Mah! Abang kecewa Mah!” herdik Sidek.
“Baiklah… abang nak Mah bagi tahu… siapa punya kerja ni?!” Tanya Sidek.
Halimah diam. Walau mati pun dia tidak akan beritahu siapa punya angkara. Pasti teruk nanti kalau suaminya tahu itu adalah hasil hubungan sulit antara dia dan anaknya, Meon. Sidek terus bertanyakan soalan yang sama. Malah semakin keras. Namun setelah bosan dengan sikap Halimah yang membisu seribu bahasa.
Akhirnya Sidek mengalah. Dia kemudian membawa masalah itu ke pejabat agama daerah. Akhirnya Halimah diceraikan dengan talak 1 bersaksikan hakim dan hak penjagaan anak diserahkan kepada Sidek. Dimahkamah, Halimah hanya diam membisu tidak berkata-apa-apa. Hatinya bagai menanti detik kegembiraan yang sekian lama dinantikan. Selepas sah dirinya diceraikan, dia bagaikan terlepas dari belenggu. Shidah tidak lagi menetap bersamanya, dia dijaga oleh neneknya, ibu mertuanya yang juga ibu suaminya. Tetapi Meon mengambil keputusan untuk menetap bersama Halimah atas alasan sudah lebih had umur penjagaan dan sudah bekerja serta mampu menjaga diri sendiri. Lebih-lebih lagi dia memberikan alasan supaya dapat menjaga emaknya yang kini menjanda dan sendirian.
“Meon… Abah nak cakap sikit…” kata Sidek sambil menarik Meon ke satu sudut yang tiada orang di luar mahkamah.
“Abah nak kau jaga mak kau baik-baik. Shidah biar abah yang jaga sebab abah dapat hak untuk jaga dia. Kau perhatikan sikit mak kau tu. Kalau kau nampak ada lelaki lain dengan dia, terpulanglah kepada kau nak pelupuh belasah sampai cacat atau mampus. Aku dah tak ada hati lagi dengan mak kau. Tapi kalau dia cakap nak kawin, kau suruh dia kawin cepat-cepat. Faham?” terang Sidek kepada Meon.
Meon mengangguk tanda faham akan setiap permintaan ayahnya. Di hatinya berdebar-debar membayangkan bagaimanakah agaknya nanti bila hanya tinggal dia dan emaknya sahaja yang hidup bersama. Malah ada juga rasa bersalah di hatinya kerana akibat keterlanjurannya bersama emaknyalah ibu bapa dia bercerai berai. Nasib baik ayahnya tak tahu benih siapakah yang dipersoalkan lantaran emaknya yang mengambil sikap tutup mulut dan berdiam diri demi melindungi hakikat sebenar hubungan sulit mereka dua beranak.
Sepanjang perjalanan pulang, Halimah yang membonceng di belakang Meon memeluk rapat anak bujangnya. Sesekali jika ada peluang, zakar anaknya di usap-usap. Meon membiarkan sahaja perbuatan gatal emaknya itu. Di bibirnya terukir senyuman kemenangan untuk memiliki ibunya. Baginya, tiada perempuan lain yang mampu memberikan kenikmatan sehebat emaknya. Malahan, baginya, tubuh emaknya sudah cukup lengkap dan sudah cukup seksi untuk dirinya. Meon sudah mula terfikir, apakah perkara pertama yang ingin dilakukan setibanya di rumah nanti.
Halimah rapat memeluk Meon. Buah dadanya sengaja di tekan ke tubuh anaknya. Tangannya menyeluk kelengkang Meon sebaik sahaja mereka memasuki halaman rumah mereka. Rasa cintanya kepada Meon semakin meluap-luap. Perasaan Halimah ibarat seorang pengantin yang baru pulang dari bernikah. Tidak sabar rasanya ingin mempersembahkan tubuhnya kepada maharaja yang masih muda dan gagah. Malah baru lepas memenangi tubuhnya di medan perang.
Halimah membawa Meon masuk ke bilik. Meon memaut pinggang emaknya dan meramas punggung emaknya yang lembut dan berlemak. Bibir mereka mula memagut sesama sendiri setibanya di tepi katil di dalam bilik Halimah. Benteng yang selama ini menjadi pemisah untuk selalu bersama akhirnya runtuh sudah. Tiada lagi halangan, tiada lagi gangguan. Setiap masa, dan setiap hari adalah detik bersama yang terlalu sukar untuk di ucapkan. Bagaikan pengantin baru mereka berkelakuan sewaktu berdua-duaan di rumah. Sampaikan sanggup Meon mengambil cuti seminggu demi menikmati peluang menyetubuhi tubuh seorang wanita yang hampir pencen, yang sentiasa ketagihan zakarnya dan benar-benar memuaskannya.
Cukuplah masa seminggu, tubuh Meon yang sasa semakin susut, Halimah sampai demam-demam. Semuanya gara-gara kemaruk menikmati setiap inci tubuh pasangan. Maklumlah bagaikan pengantin baru. Terciptalah sebuah kasih sayang, yang penuh nafsu, dan tidak kenal jemu, sepasang kekasih yang terlalu sebati laksana suami isteri, hidup di alam nan nyata bertopengkan watak sepasang ibu dan anak…

Posted in ibu n anak | Tagged: , | 1 Comment »

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.